Filosofi Nasi Tumpeng (36th-991bday)

Sering kita melihat gunungan dari nasi kuning atau nasi putih yang berbentuk kerucut pada perayaan hari-hari istimewa. Gunungan nasi tersebut kemudian dilengkapi pula dengan aneka lauk pauk dan garnis dari berbagai sayuran. Gunungan nasi yang berhias tadi terkenal dengan sebutan Nasi Tumpeng. Tumpeng biasanya ditaruh dalam niru atau tampah (nampan besar, bulat, dari anyaman bambu) yang diberi alas daun pisang. Kerucut nasi ditaruh di tengah kemudian aneka lauk disusun melingkar di sisinya. Bisa juga ditambahkan ekstra lauk-pauk dalam wadah terpisah. Sebagai hiasannya biasanya digunakan beberapa garnis sayuran atau daun. Daun peterseli, wortel, lobak, bonggol sawi,ketimun Jepang,kacang panjang, da lain-lain dapat dibentuk dan dihias menjadi hiasan cantik dalam Tumpeng. Tumpeng merupakan warisan tradisi nenek moyang yang sangat tinggi nilai dan maknanya karena merupakan simbolisasi yang bersifat sakral. Sajian olahan nasi ini sangat identik dengan budaya tradisi selamatan khas suku bangsa di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa (Jawa, Sunda, dan Madura) dan Bali. Mengapa demikian ? Karena nasi tumpeng yang memang dibuat untuk acara perayaan tersebut memiliki arti dan makna yang lebih menunjukkan pada suatu rasa syukur kepada Tuhan YME. Jadi cara pembuatannyapun sebaiknya mengikuti pakem yang sudah ada. Sebagian Tumpeng berbentuk kerucut yang mengandung makna 'mengarah ke pada Tuhan YME', sebagai pusat dari ungkapan syukur. Sehingga Tumpeng yang digunakan untuk acara Tasyakuran, cenderung berbentuk kerucut menyerupai kemuncak gunung (top of mountain). Tumpeng dalam ritual Jawa jenisnya ada bermacam-macam, antara lain: Tumpeng Sangga Langit, Arga Dumilah, Tumpeng Megono dan Tumpeng Robyong. Tumpeng sarat dengan simbol mengenai ajaran makna hidup. Tumpeng Robyong disering dipakai sebagai sarana upacara Selametan (Tasyakuran). Tumpeng Robyong merupakan simbol keselamatan, kesuburan dan kesejahteraan. Tumpeng yang menyerupai Gunung menggambarkan kemakmuran sejati. Air yang mengalir dari gunung akan menghidupi tumbuh-tumbuhan. Tumbuhan yang dibentuk ribyong disebut semi atau semen, yang berarti hidup dan tumbuh berkembang. Tetapi lain halnya dengan nasi Tumpeng untuk acara – acara yang lebih bersifat modern, misalnya untuk acara ulang tahun Anak, dan lainnya, maka nasi Tumpeng cenderung berbentuk lebih dimodifikasi. Misalnya berbentuk kotak, boneka, dan sebagainya. Lauk pauk yang digunakan dalam menghias Tumpeng sudah memiliki aturan tradisionalnya. Nasi Tumpeng untuk acara Tasyakuran Tujuh Bulanan misalnya, lauk pauknyapun akan berbeda dengan Nasi Tumpeng acara Tasyakuran Pindah Rumah. Sesuai dengan aturan tradisionalnya lauk pauk untuk nasi tumpeng harus mengandung beberapa unsur, yakni: 1. Unsur dari dalam tanah berupa umbi-umbian seperti kentang, ubi, kacang tanah dan kedelai. 2. Unsur dari atas tanah berupa sayur-sayuran. 3. Unsur hewan berupa ayam, daging sapi dan telur. 4. Unsur dari laut berupa beraneka seafood atau hasil laut seperti ikan asin atau udang. Kesemua unsur tersebut merupakan wujud perwakilan semua hal yang dimiliki manusia untuk dipersembahkan kepada yang Maha Kuasa. Mengenai jenis masakan, bisa selalu disesuaikan dengan selera atau asal daerah. Untuk tumpeng nasi kuning Jawa misalnya, bisa dipilih lauk ayam ingkung, kering tempe/kentang, sambal goreng hati ampela, perkedel kentang, urap sayuran, telur pindang, serundeng daging, ikan asin petek atau udang goreng. Nasi dan Lauk pauk pelengkap tumpeng memiliki beberapa arti simbolik, antara lain: 1. Nasi putih melambangkan segala sesuatu yang kita makan, menjadi darah dan daging haruslah dipilih dari sumber yang bersih atau halal. 2. Ayam: ayam jago (jantan) yang dimasak utuh ingkung dengan bumbu kuning/kunir dan diberi areh (kaldu santan yang kental), merupakan simbol menyembah Tuhan dengan khusuk (manekung) dengan hati yang tenang (wening). Ketenangan hati dicapai dengan mengendalikan diri dan sabar (nge”reh” rasa). Menyembelih ayam jago juga mempunyai makna menghindari sifat-sifat buruk antara lain: sombong, congkak, kalau berbicara selalu menyela dan merasa tahu/menang/benar sendiri (berkokok), tidak setia dan tidak perhatian kepada anak istri. 3. Ikan Lele: dahulu lauk ikan yang digunakan adalah ikan lele bukan banding atau gurami atau lainnya. Ikan lele tahan hidup di air yang tidak mengalir dan di dasar sungai. Hal tersebut merupakan simbol ketabahan, keuletan dalam hidup dan sanggup hidup dalam situasi ekonomi yang paling bawah sekalipun. 4. Ikan Asin (ikan teri /gereh pethek), dapat digoreng dengan tepung atau tanpa tepung. Ikan asin hidup di laut dan selalu bergerombol yang menyimbolkan kebersamaan dan kerukunan. 5. Telur: telur direbus pindang, bukan didadar atau mata sapi, dan disajikan utuh dengan kulitnya, jadi tidak dipotong – sehingga untuk memakannya harus dikupas terlebih dahulu. Hal tersebut melambangkan bahwa semua tindakan kita harus direncanakan (dikupas), dikerjakan sesuai rencana dan dievaluasi hasilnya demi kesempurnaan. Piwulang Jawa mengajarkan “Tata, Titi, Titis dan Tatas”, yang berarti etos kerja yang baik adalah kerja yang terencana, teliti, tepat perhitungan,dan diselesaikan dengan tuntas. Telur juga melambangkan manusia diciptakan Tuhan dengan derajat (fitrah) yang sama, yang membedakan hanyalah ketakwaan dan tingkah lakunya. 6. Sayuran dan Urab-uraban: Sayuran yang digunakan antara lain kangkung, bayam, kacang panjang, taoge, kluwih dengan bumbu sambal parutan kelapa atau urap. Sayuran-sayuran tersebut juga mengandung simbol-simbol antara lain: a. Kangkung berarti jinangkung yang berarti melindung, tercapai. b. Bayam (bayem) berarti ayem tentrem, c. Taoge/cambah yang berarti tumbuh, d. Kacang panjang berarti pemikiran yang jauh ke depan/innovative e. Brambang (bawang merah) yang melambangkan mempertimbangkan segala sesuatu dengan matang baik buruknya, f. Cabe merah diujung tumpeng merupakan simbol dilah/api yang memberikan penerangan/tauladan yang bermanfaat bagi orang lain. g. Kluwih berarti linuwih atau mempunyai kelebihan dibanding lainnya. h. Bumbu urap berarti urip/hidup atau mampu menghidupi (menafkahi) keluarga. Meskipun begitu, banyak orang awam sampai saat ini tidak memahami makna sebenarnya dari tumpeng. Pada umumnya mereka hanya melihat dari segi bentuk yang disajikan untuk kebiasaan selamatan tanpa mengetahui asal muasal tradisi sejarahnya. Selain itu, bukan hanya di lingkungan masyarakat pribumi; pada masa kolonial orang-orang Belanda dan keturunan (Indo) juga bahkan kerap melakukan tradisi selamatan dengan menyajikan tumpeng dan nasi kuning ketika sedang memperingati ulang tahun anak-anaknya, peresmian rumah yang baru dibangun, dan perpisahan seorang pejabat pemerintah yang dipindah tugas ke daerah lain. Pada jaman dahulu, sesepuh yang memimpin doa selamatan biasanya akan menguraikan terlebih dahulu makna yang terkandung dalam sajian tumpeng. Dengan demikian para hadirin yang datang tahu akan makna tumpeng dan memperoleh wedaran yang berupa ajaran hidup serta nasehat. Sebagaimana adat selamatan masyarakat Jawa kuno, usai berdoa dan niat, nasi tumpeng kemudian dikeruk di sisinya untuk diserahkan kepada orang tua atau yang “dituakan” sebagai penghormatan. Setelah itu, nasi tumpeng disantap bersama-sama dengan tetap melakukan cara kerukan di sisinya. Upacara potong tumpeng ini melambangkan rasa syukur kepada Tuhan dan sekaligus ungkapan atau ajaran hidup mengenai kebersamaan dan kerukunan. Sebagaimana disinggung di atas, dalam tradisi tumpeng dan juga selamatan itu sendiri, terdapat unsur pengaruh Hindu yang kuat. Selain disertai dengan ritual berdoa untuk keselamatan bersama, tradisi tumpeng juga bisa dilihat dari simbolisasi tumpeng dengan bentuk kerucutnya (trapezium) yang mengingatkan pada bentuk miniatur gunung. Gunung itu sendiri bagi penganut Hindu diberi istilah "Méru", representasi dari sistem kosmos (alam raya). Hanya Bali yang masih terasa pengaruh Hindu yang dominan; sedangkan Pulau Jawa lebih menunjukkan keunikan, karena meski adany

Jika Dia Memang Pantas Untuk Ditunggu & Dipertahankan

Bicara tentang perasaan, memang sulit untuk dikendalikan kapan dan kepada siapa rasa cinta berlabuh. Apalagi saat Anda sedang sendiri tanpa kekasih, dan ada pria baik hati yang menarik perhatian. Permasalahannya, si pria sebenarnya sudah memiliki kekasih. Entah karena si pria juga tertarik dan menyayangi Anda, atau hanya 'menggoda', simak beberapa tips di bawah ini sebagai pencerahan saat Anda tengah didera kebimbangan karena mencintai orang yang telah memiliki kekasih. 1. Pastikan Perasaan Pastikan perasaan Anda kepada orang tersebut. Apakah hanya sekadar perasaan ingin memiliki atau benar-benar sayang? Ambil waktu yang Anda miliki untuk makin mengenal diri sendiri dan berbagai pertimbangan jika Anda memilih untuk maju dan mendekatinya.  2. Hargai Hubungannya Sulit memang untuk menyembunyikan perasaan pada orang yang Anda sukai, apalagi harus terpaksa menjauhinya karena ia sudah punya pasangan. Namun demi nama baik diri sendiri, sebaiknya mulai jaga jarak. Jika sudah sama-sama mengetahui perasaan masing-masing, dan ternyata si dia juga mencintai Anda, tak ada salahnya untuk menunggu. Tapi ingat, ini bukan waktunya Anda untuk maju karena ia sudah memiliki kekasih. Jangan sampai Anda di cap sebagai wanita yang menghancurkan hubungan orang lain. 3. Apakah Si Dia Layak Ditunggu? Sebelum memutuskan untuk maju atau mundur saat mencuri hatinya, Anda perlu tanyakan hal ini dalam hati: "Apakah si dia layak ditunggu?"  Ratih menyebutkan, ada empat poin yang perlu diperhatikan saat memilih pasangan, yaitu: (1) pasangan yang pantas untuk dicintai dan kasihi; (2) pasangan yang dapat dipercaya; (3) pasangan yang bersikap respect terhadap Anda dan sebaliknya; (4) pasangan yang dapat membuat satu sama lain tumbuh dan berkembang bersama menjadi pribadi yang lebih baik. Dari empat kriteria tadi, Anda pun bisa memutuskan langkah ke depannya. 4. Jangan Mau Jadi Pelarian Jangan mau menjadi pelarian saat si pria dan kekasihnya sedang bermasalah. Meskipun sayang, namun jika ia hanya menghubungi Anda saat sedang 'berjarak' dengan kekasihnya, maka ia bukanlah pria yang pantas.  "Seorang pria yang tidak dapat bertindak tegas, tidak dapat memutuskan apa yang ia inginkan, bukanlah pria yang tepat untuk kamu. Menurut kamu apakah dia mungkin akan melakukan hal yang sama dengan apa yang dilakukannya sekarang terhadap pacarnya? Atau sederhananya apakah ia mungkin menyelingkuhi diri kamu suatu saat nanti? Saran saya lebih baik kamu pertimbangkan kembali menjalani hubungan dengannya," ujar Ratih Ibrahim, psikolog sekaligus konsultan cinta Wolipop. 5. Anda Tak Harus Menunggu Ingat status Anda saat ini, yaitu lajang dan bebas. Tak ada salahnya menunggu jika si dia memang pantas ditunggu. Namun tak perlu juga membuang waktu hanya untuk menunggu seseorang yang kurang pasti. Sembari menunggu, Anda juga bisa membuka hati dengan pria lain yang benar-benar tulus mencintai Anda. Lalung`Kra-Fp